Saturday, 5 September 2015

Sering Berdebat Tingkatkan Risiko Kematian Dini?

Orang-orang yang sering berdebat dengan teman-teman dan keluarga, atau terlalu mengkhawatirkan orang yang mereka cintai mempunyai risiko kematian dini hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang kurang argumentatif.

http://vilaputih.files.wordpress.com/2010/11/1.gif

"Berdebat sesekali memang tidak menjadi masalah. Namun, bila sering melakukannya, akan berbahaya," ujar Rikke Lund, seorang peneliti sekaligus profesor sosiologi medis di Universitas Kopenhagen, Denmark.

Penelitian ini melibatkan sekitar 10.000 pria dan wanita dengan rentang usia 36-52 tahun yang diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai hubungan sosial mereka sehari-hari di tahun 2000.

Para partisipan ditanya tentang seberapa sering mereka mempunyai konflik dengan teman, tetangga, pasangan atau anak-anak mereka, serta apakah mereka memiliki kekhawatiran terhadap anggota keluarga atau teman-teman dan kekhawatiran akan tuntutan mereka.

Selama rentang waktu 11 tahun, 226 pria (6 persen) dan 196 (4 persen) telah meninggal. Hampir separuh dari kematian tersebut disebabkan oleh kanker, sisanya akibat kecelakaan, bunuh diri, penyakit jantung, dan penyakit hati akibat penyalahgunaan alkohol.

10 Alasan Mengapa Keabadian Itu Buruk

Keabadian sering disebut adalah impian setiap manusia, namun ternyata menjadi abadi tidak seindah yang dibayangkan. Ada banyak alasan mengapa keabadian adalah hal yang buruk dan di sisi lain menunjukkan bahwa kematian ternyata adalah hal yang indah. Berikut 10 alasan mengapa Anda tidak akan menginginkan keabadian.


1. Hilangnya Identitas Diri


Anda masih ingat dengan impian masa kecil Anda? Mungkin impian itu berubah karena Anda belum dewasa dan hanyalah angan-angan semata. Namun perubahan itu akan dialami semua orang jika keabadian terwujud.

Dengan adanya keabadian maka seseorang tidak akan lagi mengetahui siapa dirinya, bagaimana kepribadian dirinya yang sebenarnya, dan apa yang mereka inginkan. Semua itu akan terus berubah dan hingga akhirnya nanti akan membuat dirinya kehilangan identitas diri.

Dalam jangka waktu ribuan tahun atas waktu yang abadi, kita pasti telah melupakan banyak hal dan mungkin termasuk siapa keluarga kita, bagaimana masa kecil kita, apa makanan favorit kita, apa bahasa kita dan banyak lainnya.



2. Golongan Sosial Yang Sangat Banyak


Dengan waktu yang tidak abadi saja kita tahu bahwa generasi kita terbagi-bagi menjadi berbagai golongan sosial seperti golongan sosial tahun 70an, 80an, 90an, dan modern sekarang ini.

Mereka yang hidup di tahun 70-an pasti memiliki musik zaman mereka sendiri dibandingkan yang hidup di generasi sekarang. Bayangkan berapa banyak golongan sosial yang dapat terbentuk jika umur manusia tidak terbatas, sederhananya bayangkan saja dalam waktu 1000 tahun.

Bahkan beberapa beragumen bahwa manusia itu terus berevolusi dan makanan yang kita makan sekarang mungkin bukan lagi makanan yang dapat kita temui di 100 tahun ke depan. Apakah Anda bisa menjamin bahwa makanan untuk 100 tahun ke depan cocok untuk Anda? Bagaimana dengan iklim di 100 tahun ke depan?

Traveling Menabung Demi Kesuksesan

Traveler, pengelana, musafir, atau apapun sebutannya memang memiliki keunikan tersendiri dibanding kebanyakan orang. Para pengelana tak suka berdiam diri di satu tempat dalam waktu yang lama. Mereka selalu ingin membuka pintu dan segera melangkahkan kaki untuk keluar dari sarangnya.
Seorang pengelana memiliki wanderlust, keinginan yang tak pernah berhenti untuk melihat dunia. Bagi mereka, tempat-tempat seganjil atau setersembunyi apapun bisa menjadi surga. Bagi beberapa orang yang tak mengerti, gaya hidup seperti ini bisa dianggap pemborosan, atau bahkan ugal-ugalan. Namun tahukah kamu bahwa sifat-sifat yang terpatri dalam diri para traveler justru bisa mendekatkan mereka pada kesuksesan?
 1. Para traveler adalah pribadi yang paling alergi pada kenyamanan semu. Mereka mengimani bahwa pengalaman baru adalah sebaik-baiknya guru.

Tak betah berlama-lama di dalam rumah via imgkid.com
Para pengelana sejati tak suka berlama-lama dalam comfort zone. Mereka selalu berusaha mencari tempat-tempat baru untuk dikunjungi, bertemu dengan sebanyak mungkin orang, tak jarang juga mereka menemui kesulitan beserta ketidakpastian di tengah perjalanan. Kendala bahasa dan budaya mungkin yang paling sering ditemui.
Namun karena ketidakpastian itu-lah yang membuat para pengelana memiliki banyak pengalaman, hingga mereka menjadi lebih banyak belajar. Mereka banyak mendapatkan ilmu dari perjalanan-perjalanan yang mereka lakukan.
 2. Perubahan yang pasti datang takkan disambut dengan panik dan ketakutan. Perjalanan mengajarkan mereka menyulap kebahagiaan dari keadaan yang sebenarnya ‘sial’.

Baik atau buruk, perubahan pasti datang seiring zaman. Perubahan tersebutlah yang membawa manusia untuk dapat bertumbuh dan berkembang. Mental yang siap mengecap kesuksesan adalah mental yang rela memeluk perubahan.
Percaya atau tidak, sebenarnya para traveler adalah mereka yang paling siap menghadapi perubahan ini. Maklum, ketidakpastian selama perjalanan telah menempa mereka untuk menyambut apapun yang bergeser dari jadwal mereka secara suka cita. Pesawat delay? Biasa! Bensin habis? Santai aja! Ketemu orang yang nggak bisa bahasa Indonesia atau bahasa Inggris? Maklum saja, cari cara supaya mereka berdua bisa saling mengerti tanpa harus memakai bahasa yang sama! Kreativitas untuk menciptakan kebaikan dari keadaan-keadaan yang sebenarnya tak ideal inilah yang menjadikan mereka begitu siap menghadapi baik-buruk perubahan dari lingkungan mereka.
 3. Kesuksesan hanya akan datang pada hati yang sabar. Cobalah tanya makna kesabaran pada mereka yang terbiasa makan mie instan karena uang harus ditabung demi liburan.

Bersabar via lifehackorg.org
Kesuksesan tidak datang secara instan. Ia hanya akan menjenguk ketika kita sudah kenyang makan kerja keras dan kegagalan. Karena itu, sukses hanya akan datang pada hati yang luar biasa sabar.
Cobalah tanyakan pada para traveler apa makna kesabaran. Mereka pasti sudah ahli! Dari harus makan mie instan demi membeli keril yang baru karena yang kemarin hilang di bagasi pesawat, bus kota yang terlambat berjam-jam dan ketika datang malah bau durian, harus berdesak-desakan seperti ikan sarden di dalam angkot… perjalanan yang mereka lakukan benar-benar “sekolah” untuk mengendalikan emosi dan membersihkan hati.
Ingat, sangat mudah untuk bersabar ketika kamu ada di rumah, nyaman dan aman dengan adanya keluarga. Jauh lebih susah ketika kamu harus bersabar dalam keadaan kamu tersesat malam-malam, tak punya orang yang dikenal di sekitar, sementara HP-mu mati dan tak ada tempat untuk mengecas di dekatmu.
Ketidakpastian-ketidakpastian seperti inilah yang hampir setiap hari dihadapi para traveler di jalan. Wajarlah jika ketika mereka sudah pulang, mereka akan menjadi pribadi yang lebih bersabar.

Tuesday, 24 March 2015

Wow, Ternyata Kotoran Manusia Mengandung Emas

'Wow, Ternyata Kotoran Manusia Mengandung Emas

Sejumlah ilmuwan Amerika Serikat tengah berupaya mencari cara untuk mendulang emas dan logam berharga lainnya yang terkandung pada tinja manusia.
Pemaparan upaya tersebut dikemukakan sekelompok peneliti dari badan Survei Geologi AS (USGS) pada pertemuan nasional Komunitas Kimia Amerika (ACS) ke-249 di Denver, Negara Bagian Colorado, AS.
Menurut Dr Kathleen Smith, selaku salah satu pemimpin tim peneliti, logam mulia di pusat-pusat pengolahan limbah dan kotoran amat berpotensi untuk didulang.
“Kandungan emas yang kami temukan berada pada tingkat minimal,” kata Smith.
Selain emas dan perak, tim peneliti menemukan kandungan logam langka lainnya pada tinja manusia, seperti palladium dan vanadium.
Para ilmuwan bereksperimen menggunakan zat kimia bernama leachate atau air lindi. Zat tersebut biasa dipakai dalam proyek pertambangan untuk mendulang logam dari lapisan batu. Meski leachate punya reputasi buruk karena mampu merusak ekosistem ketika bocor atau tumpah ke lingkungan, Smith mengatakan zat itu aman untuk mendulang logam dari kotoran padat dengan tata cara yang bisa dikontrol dan diawasi.
”Kami tertarik mendapatkan logam berharga yang bisa dijual, termasuk vanadium dan tembaga. Logam-logam itu digunakan pada telepon seluler dan komputer,” ujar Smith.
Smith dan rekan-rekannya memprediksi bahwa tujuh ton kotoran padat dikelola fasilitas-fasilitas pengolahan limbah AS setiap tahun. Sekitar setengah dari jumlah itu dipakai sebagai pupuk pertanian dan hutan. Adapun setengah lainnya dibakar atau dikirim ke lahan penimbunan sampah.
Apabila kajian Smith dan rekan-rekannya berjalan sukses, kotoran padat tidak lagi dibuang sia-sia. Apalagi, dalam kajian sebelumnya, sekelompok ilmuwan lainnya menghitung bahwa limbah kotoran yang berasal dari satu juta penduduk Amerika amat mungkin mengandung logam seharga US$13 juta.(BBC/tribunnews)'
pengolahan limbah dan kotoran amat berpotensi untuk didulang.
“Kandungan emas yang kami temukan berada pada tingkat minimal,” kata Smith.
Selain emas dan perak, tim peneliti menemukan kandungan logam langka lainnya pada tinja manusia, seperti palladium dan vanadium.

Para ilmuwan bereksperimen menggunakan zat kimia bernama leachate atau air lindi. Zat tersebut biasa dipakai dalam proyek pertambangan untuk mendulang logam dari lapisan batu. Meski leachate punya reputasi buruk karena mampu merusak ekosistem ketika bocor atau tumpah ke lingkungan, Smith mengatakan zat itu aman untuk mendulang logam dari kotoran padat dengan tata cara yang bisa dikontrol dan diawasi.

Sunday, 1 March 2015

Mesin Pengering Padi

'Prihatin Lihat Ayahnya, Mahasiswa Ini Ciptakan Mesin Pengering Padi 

Berawal dari kegelisahannya terhadap petani yang kesulitan mengeringkan padi ketika musim hujan, tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang terdiri dari Ady Sutoro, Tri Budi Cahyo Wibowo, dan Megafiestana Widiyastuti membuat mesin pengering padi. Mahasiswa jurusan Teknik Mesin ini menamakan alatnya Paddy Dryer and Separator Machine.
Desain mesinnya ini selain dibuat untuk mengeringkan padi, juga untuk memisahkan antara gabah dan beras. Jadi jika gabah dimasukkan dalam mesin ini, gabah yang dimasukkan secara otomatis akan kering dan ketika keluar langsung menjadi beras. Mesin ini mempunyai dua fungsi, yakni pengering dan pemisah.
Ditemui ketika pameran di Fakultas Teknik UNY, ketua tim Ady Sutoro mengatakan kepada Tribun Jogja bahwa inspirasi dalam membuat mesin ini adalah ayahnya sendiri. Ady mengaku ayahnya sering kesulitan dalam mengeringkan gabah ketika musim hujan.
"Kami membuat mesin ini karena terinspirasi dari ayah saya. Di daerah saya kalau musim hujan petaninya susah. Kami ingin membuat alat yang mempermudah tugas petani," ungkap Ady yang mengaku berasal dari Purbalingga.
Menurut Ady, Paddy Dryer and Separator Machine merupakan mesin inovasi terbaru sebagai mesin alternatif untuk mengeringkan dan memisahkan padi dengan cepat, mudah, dapat digunakan di segala cuaca.
Ady mengatakan mesin ini sebagai mesin alternatif karena ia tidak menyangkal, mesin semacam ini sudah ada di masyarakat.
"Di desa alat semacam ini sudah ada, hanya saja alat tersebut biasanya berukuran besar. Tidak ringkas dan tidak bisa dipindah. Sedang alat kami ini ringan dan bisa dibawa kemana-mana," katanya.

Ady menambahkan, mesin ini sesuai jika digunakan oleh petani di Indonesia. Karena menurutnya petani di Indonesia sering menghadapi cuaca yang tidak menentu.
Sehingga dalam proses panen, harapnya, mesin ini dapat menjadi sahabat petani dalam hal menunjang keberhasilan produksi padi secara maksimal dan berkualitas.
Sementara itu anggota tim lainnya, Tri Budi Cahyo menuturkan dalam pembuatan mesin ini timnya tidak mengeluarkan banyak biaya. Mesin ini, kata Tri, dalam produksinya menghabiskan biaya Rp 1,2 juta dengan waktu kisaran dua bulan.
Cara mengoperasikan mesin ini pun mudah. User hanya tinggal menekan on pada saklar blower dan elemen pemanas. Kemudian, masukkan padi ke dalam mesin tersebut. Putar poros engkolnya, hidupkan kipas angin pemisah, maka otomatis padi akan kering dan langsung menjadi beras.
"Tinggal masukkin padinya, kapasitas mesin ini 4 sampai 5 kilogram. Kemudian tunggu 40 menit. Mesin ini bekerja," ujar Tri.
Mega, anggota tim lainnya, berharap mesin ini nantinya mendapatkan investor. Sehingga mesin ini benar-benar dapat digunakan oleh petani dan mempermudah pekerjaan mereka. Selain itu, ia juga berharap alat buatannya ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya.
"Kami masih semester enam. Kami anak baru. Semoga ada mahasiswa lain yang terinspirasi lalu membuat alat lain yang dapat berguna bagi masyarakat," pungkasnya. (tribunjogja.com)'


Berawal dari kegelisahannya terhadap petani yang kesulitan mengeringkan padi ketika musim hujan, tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang terdiri dari Ady Sutoro, Tri Budi Cahyo Wibowo, dan Megafiestana Widiyastuti membuat mesin pengering padi. Mahasiswa jurusan Teknik Mesin ini menamakan alatnya Paddy Dryer and Separator Machine.
Desain mesinnya ini selain dibuat untuk mengeringkan padi, juga untuk memisahkan antara gabah dan beras. Jadi jika gabah dimasukkan dalam mesin ini, gabah yang dimasukkan secara otomatis akan kering dan ketika keluar langsung menjadi beras. Mesin ini mempunyai dua fungsi, yakni pengering dan pemisah.
Ditemui ketika pameran di Fakultas Teknik UNY, ketua tim Ady Sutoro mengatakan kepada Tribun Jogja bahwa inspirasi dalam membuat mesin ini adalah ayahnya sendiri. Ady mengaku ayahnya sering kesulitan dalam mengeringkan gabah ketika musim hujan.
"Kami membuat mesin ini karena terinspirasi dari ayah saya. Di daerah saya kalau musim hujan petaninya susah. Kami ingin membuat alat yang mempermudah tugas petani," ungkap Ady yang mengaku berasal dari Purbalingga.
Menurut Ady, Paddy Dryer and Separator Machine merupakan mesin inovasi terbaru sebagai mesin alternatif untuk mengeringkan dan memisahkan padi dengan cepat, mudah, dapat digunakan di segala cuaca.